
Dahulu orang menikmati pertunjukan musik dan drama di Opera House, kemudian ketika ditemukan alat rekam dan bioskop, keberadaan Opera House mulai terganggu, kemudian ditemukan televisi, Opera House makin terganggu dan terus berlanjut dengan ditemukannya Video kaset, Laser Disc, VCD dan DVD. Maka jika ada orang ingin membangun sebuah Opera House, maka gedung itu harus mampu menampilkan sajian seni dan hiburan yang lebih daripada yang bisa dinikmati orang-orang di rumahnya. Bagaimanapun kehadiran sebuah Opera House itu penting, karena kemampuan para aktor/ aktris dan musisi bisa kita nilai ketika mereka melakukan pertunjukan secara langsung. Kasihan sekali negeri kita Indonesia tidak memiliki Opera House yang memadai, menyaksikan pagelaran musik klasik dengan orkestra di sebuah ball-room hotel sungguh amat menyedihkan. The National Grand Theater, terletak di sebelah barat “Tiananmen Square” dan bersebelahan dengan gedung Parlemen, memiliki tiga hall besar terdiri dari satu Opera House dengan kapasitas kursi sebanyak 2,416 ; dan dua Concert Hall dengan 2,017 dan 1,040 kapasitas kursi. The National Grand Theater dengan bentuk “the egg-shaped” eksteriornya berhiaskan titanium panels dan dikelilingi dengan air yang seolah seperti danau di sekitarnya dan “telur” itu mengapung diatasnya.Pemerintah Komunis China telah mempunyai rencana ini sejak mereka merdeka 1 Oktober tahun 1949, dimana saat itu PM Zhou Enlai mengimpikan negaranya akan memiliki gedung teater yang termegah untuk mengapresiasi seni dan budaya. Namun rencana ini harus terbengkalai oleh keganasan dan kepongahan Mao Tsetung dengan membuat “bencana nasional” yaitu “Revolusi Kebudayaan” pada tahun 1965, juga sebelumnya terjadi bencana alam dan masa paceklik nasional sehingga membuat China dalam satu negara mengalami kemelaratan sehingga meminta bantuan pangan ke Rusia/ Uni Soviet.Kemudian dibawah Deng Xiaoping, negara ini mulai terbangun dari kesusahan besar, dan setelah Deng diteruskan oleh para pemimpin yang tidak korup dan ‘reformed’ dan memiliki komitmen membangung bangsa dan negara, maka secara cepat negara ini menjadi kuat secara ekonomi dan politik. Pada tahun 2001 mimpi PM Zhou Enlai yang belum terlaksana itu mulai diangkat dan diwujudkan menjadi kenyataan. Pemerintah China mengundang designer/arsitek dari seluruh dunia untuk menawarkan design mereka yang terbaik untuk membuat suatu gedung opera yang super yang tidak ada tandingannya untuk saat ini. Terkumpulah 69 design, dan design terbaik jatuh kepada seorang Arsitek dari Perancis Paul Andreu.

The National Grand Theater berdiri diatas lahan seluas 26 hektar, mulai dibangun sejak tahun 2001, dan pada bulan July 2007 telah selesai dengan sempurna. Sekarang ini Gedung tersebut dalam masa-masa trial. Paul Andreu bukan saja seorang seniman, ia juga seorang teknokrat dan ilmuwan. Ia mendesign gedung itu bukan hanya dari segi kemewahannya dan kemegahannya, tetapi juga menciptakan efek psikologi dari setiap pengunjungnya. Ia menciptakan suasana ruang-ruang yang membuat setiap pengunjung menjadi tenang dan nyaman sebelum mereka masuk ke dalam concert-hall atau opera house yang menyajikan suatu karya seni yang high-end. Gedung ini dikelilingi oleh danau buatan, para pengunjung yang akan masuk ke gedung akan melewati jalan masuk dibawah air. Paul Andreu mendesign pintu masuk dan koridor yang nyaman yang diatapi air ini adalah untuk mendinginkan suasana hati dan pikiran para pengunjung yang akan menikmati opera/ pertunjukan musik. Kemudian ketika pengunjung masuk ke entrance hall (ruang tunggu) mereka juga dibuat nyaman dengan ruangan sebesar lapangan sepak-bola, sehingga tidak mungkin mereka saling berdesak-desakan sampai keringatan untuk berebut masuk ke dalam gedung pertunjukan. Mereka dibuat tenang berdiri atau duduk di ruang tunggu dengan diiringi sajian ‘ensemble’, solo piano atau sajian musik yang lain yang membuat suasana relax. Karena untuk menikmatik sebuah pertujukan high-end, para penonton harus mempersiapkan dirinya, pikirannya dan hatinya untuk mengapresiasi sajian pertunjukan kelas tinggi.
Paul Andreu yang saat ini berusia 69 tahun, bukan orang baru dalam pembangunan-pembangunan public area di China. Sebelumnya ia juga telah mendesign Pudong Airport di Shanghai dan gedung yang lain yaitu The Shanghai Oriental Art Centre. Ia juga telah menjadi guru besar di Universitas di Chengdu dan menjadi dewan kehormatan untuk pembangunan kota Nanjing. Ketika Pemerintah China mengundang para Arsitek untuk mendesign Gedung Opera di Beijing, iapun menawarkan karyanya, dan ia terpilih lagi. Sebelum ia mendesign gedung itu, ia mengunjungi lahan yang akan dibagun, ia melihat sekelilingnya dan ternyata lahan itu ada diantara dua tempat yang menjadi legendaris China, yaitu Tiananmen (Forbidden City) dan gedung Parlemen. Maka ia berfikir bahwa Gedung Opera ini pasti sangat penting, sebuah landmark atau simbol negara. Maka ia menumpahkan idenya dengan merancangkan sebuah bagunan dan area yang lain daripada yang lain, ia membangun sebuah gedung yang bersifat futuristik diantara gedung-gedung yang klasik/ tradisional.
The National Grand Theater memiliki tiga ruangan pertunjukan utama. Di ruang konser musik juga terdapat organ klais raksasa dengan 6,500 pipa, dengan akustik ruangan yang memungkinkan suatu pertunjukan tanpa pengeras suara elektrik. Di ruangan seperti ini, Anda akan menikmati sajian “sound” yang tidak akan Anda dapatkan di rumah walaupun dengan peralatan sound-system yang mahal. The National Grand Theater menyediakan ruangan yang dasyat untuk pertunjukan opera, kabaret, konser musik, pentas teater, pentas tari, fasion show, dll. Semua keperluan pertunjukan telah diperlengkapi di gedung ini, termasuk ruang ganti, ruang latihan, ruang seminar, sampai laundry system. Sehingga barangkali designer pakaian kelas dunia akan yang menampilkan karyanya, dimana baju-bajunya dikemas dengan cargo dari tempat lain, semuanya bisa di rapikan di gedung itu juga, tidak usah kemana-mana. Di Opera House juga dilengkapi panggung yang besar, berlapis-lapis yang bisa naik-turun, yang memungkinkan sebuah pertunjukan kolosal semisal “AIDA” karya Giuseppe Verdi dengan penyajiannya yang sangat perfect karena ditunjang dengan panggung yang sangat besar. Dibangunnya The National Grand Theater ini juga sebagai pelengkap Olimpiade tahun 2008 yang diselenggarakan di Beijing.


Gedung Parlemen China dilihat dari National Grand Theater


China’s futuristic National Grand Theater, yang juga disebut “The Egg”, seolah mengapung di sebuah danau


The structure

National Grand Theater dilihat dari Forbidden City

Opera house


Concert hall
The National Grand Theater hanya menggunakan bahan-bahan yang terbaik, dinding yang dilapisi kayu merah dari Brazil, dan ceiling dari kulit kayu yang didatangkan dari Afrika, granit lokal terbaik, interior opera house dindingnya dilapisi dengan kain sutera terbaik yang tahan api. Semua perusahaan yang menjadi penyedia bahan untuk National Grand Theater, entah itu construction company, dan macam-macam supplier, mereka semua terangkat reputasinya karena andil mereka untuk pembangunan The National Grand Theater ini.

Security check untuk memasuki gedung ini lebih ketat daripada security check di Airport international, maka pihak management gedung meminta maaf di depan untuk hal ini, karena gedung ini adalah sebuah prestasi dan kebanggaan nasional, maka jangan sampai ada orang-orang melakukan hal-hal yang merugikan. Dalam gedung ini juga dilengkapi dengan pemadam kebakaran yang mobile, mengingat mobil kebakaran dari luar tentu tidak bisa masuk ke area ini jika terjadi kebakaran. Kepala security gedung ini adalah seorang perempuan, berperawakan dan bertampang biasa-biasa, menandakan bahwa urusan security bukan soal otot tetapi lebih ke otak. Saya melihat semua orang yang bekerja di gedung ini mulai dari direktur, para ahli dan staff mereka semua berpenampilan sangat sederhana, berpakaian biasa-biasa, ketika diwawancarai wartawan juga tidak mempersiapkan diri dengan pakaian khusus, berjas-dasi, menandakan mereka benar-benar pekerja, bukan sekumpulan selebriti. Pakaian mereka yang sederhana menandakan bahwa setiap orang yang bekerja di gedung itu benar-benar bekerja, tidak mengutamakan “komisi” seperti biasa kita jumpai dalam setiap proyek-proyek pemerintah di negara kita Indonesia, bahkan presiden kita demen banget bikin komisi ini dan komisi itu, jadilah setiap kegiatan berbau “komisi” yang masuk ke kantong masing-masing anggota komisi.
Para pengelola gedung dalam acara presentasi The National Grand Theater memamerkan kemegahan gedung itu dan mereka dengan bangga mengatakan, gedung ini dibangun dari uang negara dari penerimaan pajak. Suatu hal yang berbeda dengan apa yang ada di Indonesia kini, dimana uang negara tercecer di pejabat A, pejabat B dan seterusnya. Sungguh menyedihkan kita belum mempunyai pemimpin yang mempunyai visi jauh kedepan untuk kemajuan bangsa.
Gedung untuk rakyat :
Meski pengorbanan dan darah para seniman yang mati dibunuh dan disiksa pada masa Revolusi Kebudayaan tidak akan sebanding dengan sebuah gedung The National Grand Theater, namun adanya gedung itu menjadi tanda bahwa karya seni tidak akan pernah mati meskipun diberangus sedemikian rupa dalam sebuah revolusi. Pemerintah China Baru mempunyai obsesi bahwa kemajuan negara tidak hanya diukur dari kemajuan perdagangan dan tekhnologi, mereka melihat bahwa apresiasi terhadap seni merupakan tanda bahwa negara itu telah maju martabatnya.
Dalam pembangunan The National Grand Theater ini tentu saja mengorbankan banyak orang, ribuan rumah penduduk harus digusur untuk dibangunnya suatu simbol negara ini. Rakyatpun harus rela terusir dan menempati relokasi yang baru. Namun pemerintah China adalah pemerintah yang berkomitmen untuk rakyat, bahwa The National Grand Theater adalah gedung untuk rakyat, bukan untuk kaum borju, orang kaya, atau pejabat saja. Pertunjukan pertama di The National Grand Theater ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang berani membayar ticket yang mahal. Anda tahu siapa orang-orang yang pertama-tama diundang masuk dan menikmati gedung ini? Undangan khusus itu pertama-tama untuk orang-orang yang rumahnya tergusur untuk proyek ini, kemudian untuk para pekerja yang membangun proyek ini dan bagi para wartawan untuk meliput. Pertunjukan pertama tidak ditujukan kepada pejabat/ pembesar negara!. Orang-orang yang rumahnya tergusur itu diberi suatu penghormatan yang tinggi atas pengorbanan mereka merelakan lahannya digunakan untuk pembangunan simbol negara, dan tentu saja nasionalisme mereka dibangkitkan bahwa mereka turut andil untuk kepentingan negara dan bangsa mereka.
The National Grand Theater, akan menampilkan karya-karya seni 30% import dan 70% lokal, dan gedung ini bukan hanya sebagai tempat pertunjukan seni, tetapi juga sebagai pusat kajian. Group theater asing top dunia sekarang ini berebut ingin tampil disini untuk menyajikan karya seni mereka yang terbaik. Dan mereka ini harus memenuhi syarat-syarat, termasuk mereka harus rela pada saat latihan-pun boleh dilihat para seniman lokal. Dan mereka harus membuat seminar dari karya seni yang ditampilkan. Sehingga dengan demikian para seniman lokal tidak hanya melihat/ menjadi penonton saja, tetapi mereka sekaligus bisa mempelajari dan mengkaji sebuah karya seni tingkat dunia dari negara-negara lain. Saya berpikir, adakah cara demikian terpikir oleh pemerintah kita?
Di lain pihak pemerintah China juga memahami bahwa rakyatnya sebagian besar belum mengerti tata-krama untuk memasuki sebuah gedung opera, bagaimana bertingkah laku yang sesuai. Maka dibuatlah kampanye pendidikan tata-krama ini. Telah dipersiapkan 130 pertunjukan keliling seluruh daratan China, sambil berpromosi juga sekaligus mendidik orang-orang bagaimana bertingkah-laku di dalam sebuah Opera House, bagaimana menjadi penonton yang baik dan apresiatif terhadap karya seni yang disajikan dalam suatu pertunjukan, bagaimana cara mereka berpakaian, berbicara, bertata-krama di gedung yang high-end.
Tentu saja sudah ada banyak sekali acara-acara yang dirancangkan untuk The National Grand Theater diantaranya pagelaran besar di akhir tahun ini (old & new) oleh Chinese National Symphony Orchestra dengan conductor ternama Seiji Ozawa dan pianis lokal Lang Lang. Dan sepertinya untuk pengunjung umum seperti kita, mungkin harus menunggu setelah berakhirnya Olimpiade 2008 nanti, untuk bisa masuk ke gedung itu.
Diambil dari kutipan Bagus Pramono sarapanpagi.com
Recent Comments